Sejarah

Air Susu Dibalas Dengan Air Tuba (Monas Jakarta)

Posted on

1471841_253928001431373_762779685_nInilah Orang yang Menyumbang Emas di Puncak Api Tugu Monas.
Ternyata 38 kg emas yang dipajang di puncak tugu Monumen Nasional (Monas) Jakarta, 28 kg di antaranya adalah sumbangan dari salah seorang saudagar Aceh yang pernah menjadi orang terkaya Indonesia, Teuku Markam.  Orang-orang hanya tahu bahwa emas tersebut memang benar sumbangan saudagar Aceh. Namun tak banyak yang tahu, bahwa Teuku Markam-lah saudagar yang dimaksud.
Itu baru segelintir sumbangan Teuku Markam untuk kepentingan negeri ini. Sumbangsih lainnya, ia pun ikut membebaskan lahan Senayan untuk dijadikan pusat olah raga terbesar Indonesia. Tentu saja banyak bantuan-bantuan Teuku Markam lainnya yang pantas dicatat dalam memajukan perekonomian Indonesia di zaman Soekarno, hingga menempatkan Markam dalam sebuah legenda.
Di zaman Orba, karyanya yang terbilang monumental adalah pembangunan infrastruktur di Aceh dan Jawa Barat. Jalan Medan-Banda Aceh, Bireuen-Takengon, Meulaboh, Tapaktuan dan lain-lain adalah karya lain dari Teuku Markam yang didanai oleh Bank Dunia.  Baca entri selengkapnya »

Iklan

Historis Perjuangan Lahirnya MoU Helsinky Dan UUPA

Posted on Updated on

IMG_0034Aceh dan Riwayat Pengorbanan yang Panjang

            Sejarah mencatat, Aceh adalah wilayah dengan riwayat kepahlawanan dan sekaligus pengorbanan yang demikian panjang terentang. Bahkan di era kemerdekaanpun, sejumlah tokoh Aceh telah menjadi “tumbal” dalam konflik politik yang berkepanjangan di bumi Serambi Mekkah ini.

Aceh memang daerah yang sarat kepentingan, oleh karenanya dijuluki “Daerah Modal”. Kepentingan atas penguasaan daerah padat modal itulah barangkali merupakan salah satu alasan yang menempatkan Aceh menjadi daerah sarat kepentingan. Itu pula sebabnya mengapa perundingan damai antara pemerintah RI dengan GAM sampai ditandatanganinya MoU damai di Helsinki sulit terwujudkan.

Secara geografis, Aceh yang terletak di ujung barat pulau sumatera dengan ibu kota Banda Aceh ini memiliki luas 57.365,57 Km2. Dalam Lembaran Negara Republik Indonesia Aceh dinyatakan resmi berdiri sebagai Daerah Istimewa pada tanggal 7 Desember 1956. Pada tanggal 9 Agustus 2001, melalui UU No. 18 Tahun 2001, status istimewa berubah nama menjadi “ Daerah Otonomi Khusus Nanggroe Aceh Darussalam “. Status itu semakin diperkuat setelah lahirnya Undang-Undang No. 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh. Sebagai daerah istimewa dan otonom, kini Provinsi Aceh terbagi menjadi 23 kabupaten/kota dengan jumlah penduduk lebih kurang 4,5 juta jiwa. Baca entri selengkapnya »

Syekh Abdur-Rauf As Singkili ~ Ulama Besar Tanah Rencong~

Posted on

lukisan-syekh-abdul-rauf-al-singkili-_120509211806-388Nama lengkapnya ‘Abdur- Rauf bin ‘Ali Al Jawi Al Fansuri As Singkili atau sering kali disebut Abdur Ra’uf As Singkel. Dia lahir pada 1024 Hijriyah atau 1615 Masehi di Singkil, Aceh.

Ayahnya adalah Syaikh Ali Fansuri yang memiliki hubungan saudara dengan Hamzah Fansuri, penyair dan ulama sufi ternama Melayu. Sang ayah pun merupakan ulama ternama Aceh. Dari sang ayah lah, pendidikan agama As Singkel bermula.

As Singkel kemudian belajar ke Barus atau Fansur, sebuah kawasan di Sumatra Utara yang menjadi pusat pembelajaran Islam bangsa Melayu dan Asia kala itu. Baru kemudian, pada usia remaja ia menuntut ilmu di Banda Aceh. Beberapa sejarawan juga menyebut Syekh sempat menjadi murid dari Hamzah Fansuri. Baca entri selengkapnya »

ATJEH DI MATA DUNIA

Posted on Updated on

Hasan di ritoRakyat Aceh dalam perjalanan sejarah Republik Indonesia, sejak Proklamasi 1945, telah memperlihatkan sikap setia setiap saat terhadap NKRI. Namun sedihnya Aceh terus menerus DIFITNAH hendak memisahkan diri dari integritas keindonesiaan. Dengan tuduhan itu pula apa yang terjadi di Aceh tidak ada yang memperdulikan, pun ketika Aceh menjadi salah satu wilayah termiskin di Indonesia. Padahal pernyataan setia yang dikumandangkan para ulama – nyaris merupakan pernyataan syahadat bagi Republik ini. Tapi yang didapat rakyat Aceh tidak lebih dari teror, penindasan dan ketidakadilan sepanjang abad. Adalah Teungku Hasan Muhammad di Tiro salah satu pemimpin yang memimpin Aceh untuk melawan, melawan ketidakadilan Indonesia terhadap Aceh. Baca entri selengkapnya »

ACEH PUNGOE

Posted on Updated on

desain-cover-acehh-pungoPerang Belanda di Aceh yang meletus sejak tahun 1873 hingga awal abad XX belum berakhir. Berbagai upaya dilakukan untuk dapat mengakhiri perang yang telah banyak memakan korban, baik di pihak Aceh maupun di pihak Belanda sendiri. Menjelang akhir abad XIX dan pada awal abad XX, Belanda melaksanakan suatu tindakan kekerasan melalui sebuah pasukan elit yang mereka namakan het korps marechaussee (pasukan marsose).
Pasukan ini dari serdadu-serdadu pilihan yang memiliki keberanian dan semangat tempur yang tinggi, dengan tugas untuk melacak dan mengejar para pejuang Aceh melawan Belanda ke segenap pelosok daerah Aceh. Mereka akan membunuh para pejuang Aceh yang berhasil ditemukan atau setidaknya membuang ke luar daerah Aceh.
Dengan cara kekerasan ini Belanda mengharapkan rakyat atau para pejuang akan takut dan menghentikan perlawanan Belanda. Namun apa yang terjadi ? Akibat tindakan kekerasan tersebut telah menimbulkan rasa benci dan dendam yang sangat mendalam bagi para pejuang Aceh yang bersisa, lebih-lebih bagi keluarga mereka tinggalkan, ayah, anak, menantu, sanak keluarga atau kawomnya yang telah menjadi korban keganasan pihak Belanda.
Untuk membalas tindakan kekerasan yang dilakukan oleh Belanda tersebut para pejuang Aceh melakukan suatu cara yang kemudian diistilahkan oleh Belanda dengan nama Atjeh Moorden atau het is een typische Atjeh Moord, Suatu pembunuhan khas Aceh yang orang Aceh sendiri menyebutnya poh kaphe (bunuh kafir). Di sini para pejuang Aceh tidak lagi melakukan peperangan secara bersama-sama atau berkelompok, tetapi secara perseorangan. Baca entri selengkapnya »

140 tahun lalu atau tepatnya pada 26 Maret 1873, Belanda menyatakan perang terhadap Aceh.

Posted on

pendaratan-pertama-belanda-acehSejarah kelam yang merupakan awal terjadinya kekerasan di daerah ini, bermula ketika JF Nieuwenhuijzen dalam kapasitasnya sebagai Komisaris Pemerintah Belanda datang ke Aceh pada 19 Maret 1873. Ia bersama armadanya yang terdiri dari Kapal Citadel van Antwerpen diiringi kapal perang Marnix, Coehorn, dan Siak, berlabuh di pantai Cermin, Ulee Lheue, Kutaradja (sekarang Banda Aceh).
Pada 22 Maret atau empat hari sebelum maklumat perang itu dikeluarkan, Sidi Tahir, pegawai Belanda diutus ke darat untuk menyampaikan surat Nieuwenhuijzen kepada pemimpin Aceh, Sultan Alaidin Mahmudsyah. Dalam surat itu, Belanda minta Kerajaan Aceh menghentikan hubungan diplomatik dengan para konsul asing di Singapura dan menawarkan suatu perundingan baru antara Aceh dengan Belanda.
Ancaman kolonialisasi
Pada malamnya, Sidi Tahir kembali ke kapal, menghadap tuannya Nieuwenhuijzen dengan membawa surat balasan Sultan Aceh yang berisi penolakan terhadap tawaran tersebut. Surat ini merupakan intervensi langsung Belanda yang melihat Aceh sebagai satu ancaman serius bagi proses kolonialisasi di Nusantara.
Tidak puas dengan surat dari Sultan, pada 24 Maret 1873 Nieuwenhuijzen kembali mengutus Sidi Tahir dengan menulis sepucuk surat lagi kepada pemimpin Aceh, Sultan Mahmudsyah, dengan mencurahkan perasaan kecewanya serta menuduh Kerajaan Aceh sebagai tidak bersahabat dan meminta dalam waktu 24 jam setelah surat ini diterima, Sultan harus memberikan penjelasan yang benar dan memuaskan hati Gubernemen Hindia Belanda.

Bukti Ka’bah Sebagai Pusat Bumi

Posted on Updated on

http://avifaremania.wordpress.com
http://avifaremania.wordpress.com

Neil Amstrong telah membuktikan bahwa kota Mekah adalah pusat dari planet Bumi. Fakta ini telah di diteliti melalui sebuah penelitian Ilmiah.
Ketika Neil Amstrong untuk pertama kalinya melakukan perjalanan ke luar angkasa dan mengambil gambar planet Bumi, dia berkata, “Planet Bumi ternyata menggantung di area yang sangat gelap, siapa yang menggantungnya ?.”

Para astronot telah menemukan bahwa planet Bumi itu mengeluarkan semacam radiasi, secara resmi mereka mengumumkannya di Internet, tetapi sayang nya 21 hari kemudian website tersebut raib yang sepertinya ada alasan tersembunyi dibalik penghapusan website tersebut.Setelah melakukan penelitian lebih lanjut, ternyata radiasi tersebut berpusat di kota Mekah, tepatnya berasal dari Ka’Bah.

Yang mengejutkan adalah radiasi tersebut bersifat infinite ( tidak berujung ), hal ini terbuktikan ketika mereka mengambil foto planet Mars, radiasi tersebut masih berlanjut terus. Para peneliti Muslim mempercayai bahwa radiasi ini memiliki karakteristik dan menghubungkan antara Ka’Bah di planet Bumi dengan Ka’bah di alam akhirat.
Di tengah-tengah antara kutub utara dan kutub selatan, ada suatu area yang bernama ‘Zero Magnetism Area’, artinya adalah apabila kita mengeluarkan kompas di area tersebut, maka jarum kompas tersebut tidak akan bergerak sama sekali karena daya tarik yang sama besarnya antara kedua kutub.
Itulah sebabnya jika seseorang tinggal di Mekah, maka ia akan hidup lebih lama, lebih sehat, dan tidak banyak dipengaruhi oleh banyak kekuatan gravitasi. Oleh sebab itu lah ketika kita mengelilingi Ka’Bah, maka seakan-akan diri kita di-charged ulang oleh suatu energi misterius dan ini adalah fakta yang telah dibuktikan secara ilmiah. Baca entri selengkapnya »